Ujian OSCE Nasional di FKUY

 

Bulan lalu Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, bersama fakultas kedokteran diseluruh Indonesia mengadakan hajatan besar yaitu kegiatan OSCE Nasional. FKUY mendapat keistimewaan karena menjadi host dengan jumlah peserta ujian terbesar sehingga pelaksanaan ujian berlangsung selama 5 sesi dalam 3 hari yaitu sabtu, ahad dan senin. Besarnya jumlah peserta mendorong civitas akademika FKUY untuk bahu membahu menyukseskan acara ini termasuk melibatkan pada dosen tidak tetap dari rumah sakit jejaring. Hal ini adalah kesempatan langka untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi untuk mempererat kerjasama di masa depan.

Objective Structured Clinical Examination atau yang dilebih dikenal sebagai Ujian OSCE adalah ujian yang bersifat psikomotor untuk melihat skill individu mahasiswa setelah melewati masa rotasi klinik di rumah sakit jejaring. Skill ini juga terkait dengan materi yang diberikan dalam kegiatan Skills Lab di kampus yang saat ini digawangi oleh dr. Wening Sari, M.Kes. Hal yang istimewa dari OSCE Nasional adalah besarnya upaya untuk mensimulasikan situasi praktik atau medik yang kelak akan dihadapi oleh seorang dokter. Situasi yang dihadapi di ruang praktek atau lokasi kecelakaan tentu membutuhkan seperangkat skill dan ilmu yang bersifat integratif dan aplikatif.

Sebagai contoh pada situasi kegawatan tentu skill anamnesa yang digunakan berbeda dengan titik tekan anamnesa di poliklinik. Demikian pula nuansa kegawatan tentu membutuhkan kecepatan dan ketepatan tindakan yang bertujuan jelas. Ujian OSCE menguji kemampuan melakukan pembidaian, interpretasi foto rontgen, tanda dan gejala klinis serta data lain hingga mendapatkan diagnosis dan dapat dilakukan terapi baik pembuatan resep ataupun tindakan medik.

Berangkat dari hal ini pada tahun ini ujian OSCE pra-koas telah mulai mengujikan kombinasi skill yang dipadukan dalam suatu skenarion klinis dalam satu ruang ujian. Selain membiasakan mahasiswa dengan ujian OSCE nasional juga untuk memberikan pengalaman penerapan skill secara integratif sebelum terjun ke Rumah Sakit. Bukan tidak mungkin berikutnya dilakukan revisi kegiatan skillslab agar dapat memberikan pengalaman yang lebih realistis, integratif dan aplikatif pada mahasiswa. (ik)

 

About the Author